Pelaku Pembunuhan Dubes Rusia di Ankara Seorang Petugas Polisi Anti Huru-hara Turki

0
84

ANKARA, TURKI (voa-islam.com) – Orang yang membunuh duta besar Rusia di Turki diidentifikasi sebagai seorang perwira berusia 22 tahun di unit polisi anti huru hara Turki, yang telah 2,5 tahun bertugas di kesatuannya.

Duta Andrey Karlov ditembak mati pada Senin (19/12/2016) malam ketika ia menyampaikan pidato di sebuah galeri seni Ankara. Pelaku gugur dalam tembak-menembak dengan pasukan keamanan.

Penyerang diidentifikasi sebagai Mevlut Mert Altintas, seorang perwira berusia 22 tahun di polisi anti huru hara Turki, kata Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu. Menteri menambahkan bahwa penyelidikan motif di balik pembunuhan itu sedang berlangsung.

Altintas lahir pada tanggal 24 Juni 1994 di provinsi pesisir barat Turki Aydin. Dia bersekolah di SMA Soke Cumhuriyet Anadolu dan lulusan Sekolah Polisi Izmir Rustu Unsal, kata sang menteri, seperti dikutip oleh kantor berita Anadolu.

Penembak menggunakan ID polisi untuk mendapatkan akses ke acara tersebut, sementara laporan lain menyebutkan dia ditugaskan untuk mengawal sang diplomat kepala. Ketika duta besar Rusia sedang menyampaikan pidatonya, Altintas menembaknya beberapa kali. Dia berteriak bahwa serangan itu sebagai pembalasan atas keterlibatan Rusia dalam pembantaian di Aleppo Suriah.

Seorang pejabat Turki mengatakan epada Reuters bahwa Altintas mungkin memiliki hubungan dengan jaringan ulama yang berbasis di AS Fethullah Gulen. Pejabat yang tidak disebutkan namanya itu mengklaim ada “tanda-tanda yang sangat kuat” dari koneksi tersebut.

Sebuah tuduhan serupa disuarakan oleh Walikota Ankara Melih Gokcek, yang tweeted: “penyerang adalah seorang polisi. Menurut apa yang saya dengar, dia adalah anggota Feto. Slogan dari penyerang hanya manajemen persepsi. ”

Feto adalah akronim yang digunakan di Turki untuk menggambarkan jaringan pendukung Gulen di negara ini.

Ankara menyalahkan Gulen karena berada di balik beberapa tindakan terhadap pemerintah Turki, termasuk kudeta militer gagal awal tahun ini. Cendekiawan yang diasingkan itu secara rutin membantah tuduhan tersebut.

Alp Aslandogan, penasihat Gulen, mengatakan kepada Reuters bahwa bosnya tidak ada hubungannya dengan pembunuhan duta besar Rusia dan mengatakan Ankara telah mengkompromikan situasi keamanan di Turki dengan meluncurkan tindakan keras terhadap mereka yang diduga sebagai pendukung Gulen. (st/RT)

LEAVE A REPLY